Kisah : Harapan dan
Perjuangan si Jaka
Oleh: Pramunanto
Upacara wisuda setelah meraih gelar
kesarjanaan merupakan moment yang paling ditunggu-tunggu. Sampai-sampai membuat
sebagian mahasiswa merasa gak penting dapat nilai bagus, yang penting di rumah bisa
terpajang foto wisuda sebagai bukti kesuksesannya. Pihak keluarga pun, tak
segan-segan merogoh kocek lebih banyak untuk membelanjakan kostum yang megah
demi penampilan mereka. Bahkan sudah dirancang pula acara tambahan setelah
wisuda, entah itu makan-makan di restoran yang paling mahal ataupun acara mewah
yang lain. Dan bisa jadi ada juga yang merayakan kemenangannya selama tujuh
hari tuju malam, kayak acara pengantin yang sedang berbulan madu.
Alkisah dengan seorang anak yang
tinggal di sebuah gang kecil dengan kondisi keluarga yang begitu sederhana,
sebut saja Jaka. Untuk bisa menamatkan sekolah setingkat SMA saja merupakan hal
yang istimewa, apalagi tingkat sarjana … sangat-sangat luar biasa. Rintangan
ekonomi berhasil dilalui, lulus SMA, masuk kuliah dan sekarang sudah menempuh
semester terakhir, menyusun skripsi, tinggal selangkah lagi. Betapa bangganya
keluarga yang sebentar lagi punya anak yang sarjana.
Bayang-bayang bisa menghadiri acara
wisuda anaknya telah menjadi cita-cita orang tuanya. Bahkan semangatnya seperti
layaknya orang gede lainnya, apapun akan dilakukan asalkan bisa hadir di acara
wisuda … cuma bisa hadir, gak lebih dari itu, itupun sudah merupakan perjuangan
berat mengingat mahalnya tiket wisuda (menurut ukuran mereka).
Akibat lingkungan pergaulan, telah
membuat sang anak merasa minder dengan kondisi ekonomi keluarganya yang
pas-pasan, bahkan bisa dibilang serba kekurangan kalo diukur menurut ukuran
standar. Sang anak merasa malu jika acara wisuda dihadiri orangtuanya yang
sangat kampungan dan tak sanggup berbusana megah. Ternyata setali tiga uang,
orang tuanya juga merasa minder jika harus duduk berderet dengan orang lain,
yang dianggapnya lebih mapan, walaupun anggapan itu belum tentu benar. Sungguh
sikap yang sangat keliru, menurutku.
Rupanya keluarga itu telah diliputi
perasaan perang batin yang amat dahsyat, menghadapi dua pilihan yang
bertentangan. Antara keinginan dengan amat sangat untuk hadir di acara wisuda
acara yang dinanti-nantikan dan tidak hadir karena perasaan minder yang amat
sangat. Dan perasaan minderlah yang mendominasi, dan memenangkan perang batin
itu, untuk sementara.
Hingga akhirnya pilihan itu telah
bocor ke telingaku lewat curhatnya. Awalnya cuma diam, aku harus berkata apa,
karena itu sudah merupakan sikapnya yang selama ini aku kenal sebagai orang
yang berkecil hati akibat kondisi ekonomi yang pas-pasan.
Akhirnya meluncurlah perkataanku “
bukankah selama ini telah bersusah payah mengkuliahkan anak, giliran sudah
selesai dan mau diwisuda kok gak mau datang. Wisuda itu cuma sekali lho, pasti
nanti akan kecewa berat jika tidak datang.” “ Iya sih, abis aku bingung harus
bagaimana nanti selama di acara” katanya. Ooooo … rupanya masih ada keinginan,
walau bingung harus bagaimana nantinya, wajar kalau merasa gugup. “Disana
seperti nonton film kok, cuma duduk” kataku. Dengan sedikit sumringah dia
berucap “masa cuma seperti itu, kalau begitu aku berani lah.” Sejenak diam,
akhirnya melanjutkan “… tapi masalahnya anakku yang gak mau kalo aku hadir,
malu sama temen-temen katanya”. “Nanti deh aku kasih pengertian ke dia,”
jawabku.
Gak beberapa munculah anaknya. “Jaka,
sebentar lagi kamu wisuda kan. Siapa nanti yang akan mendampingi kamu?”
tanyaku. “ Abang aja ya yang datang” jawabnya. “Lho kan ada bapak ibumu,
mestinya mereka yang harus hadir” kataku, yang kebetulan kita bertetangga.
“Tapi bang aku malu….” katanya yang segera aku potong, “Jakar, kalo anak
jenderal atau anak pejabat atau anak pengusaha bisa kuliah, tidak heran, itu
wajar, bahkan bila perlu kuliahnya di luar negeri. Tapi kamu, lihat, kamu
kuliah dari hasil keringat orang tuamu yang hanya jualan sembako. Kalo hasilnya
dipakai buat makan saja pas-pasan. Tapi tidak dengan bapak ibumu. Dibela-belain
makan seadanya, hidup prihatin, untuk apa … ya untuk kamu, asal bisa
menyekolahkan kamu, itu perjuangan yang berat Jaka.” Lanjutku “Mestinya
sebaliknya, kalo aku jadi kamu justru bangga, anak orang miskin tapi bisa
kuliah. Hebat kan !
Justru aku akan ajak orang tuaku ke wisuda, dan akan aku pamerkan ke
teman-teman, ini bapak ibuku walau orang miskin tapi sanggup mengkuliahkan aku
hingga sarjana.” Rupanya, kata-kataku sedikit mengena, kelihatan dia diam dan
sedikit merenung dan mengiyakan. Dalam hati tugasku tinggal selangkah lagi
untuk lebih meyakinkan kepada orangtuanya agar tidak minder, dan sedikit demi
sedikit akhirnya rasa percaya diri itu muncul. Karena memang semua mahluk itu
dihadapan Allah sama saja yang membedakan adalah iman, kataku seperti ustad
saja.
Beberapa hari berlaku, sang anak
berposting pada status facebook dengan kalimat “Hari yang paling bahagia adalah
ketika melihat bapak dengan baju batik yang sudah lusuh menghadiri wisuda.”
Alhamdulillah, rupanya kata-kataku sudah mengena di hati. Semoga perkataanmu
pada status penuh kejujuran dari hati yang paling dalam. Karena cuma itu yang
menjadi kebanggaan orang tuamu.
What is the minimum bet in casino? - DrmCDC
BalasHapusAs 익산 출장안마 of May 삼척 출장샵 3, 2021, no one is paying real money when you sign up 제주도 출장마사지 for 태백 출장마사지 a new account. A real bet amount is $10 or more, making 광주광역 출장안마 it an