Rabu, 18 Juli 2012


Menyimak berita-berita seputar permasalahan Ibu Wa Ode Nurhayati, membuatku jadi melamun, merenung, berkhayal-khayal, tentang suatu sistem di negeri ini. Memang sih, melihat kondisi negara kita sekarang-sekarang ini menjadikan bulu kuduk jadi berdiri. Merinding. Gemes. Kesal. Marah. Semua-semua dikorup. Semua-semua disunat. Semua-semua disuap. Semua-semua di pungli. Saling tipu. Saling sikut. Saling bunuh. Saling ancam. Entah itu di lingkungan pemerintah maupun swasta, entah itu kelas atas maupun kelas rakyat jelata. Hampir melanda di semua lini.

Tukang sampah aja ikutan korupsi, minimal korupsi waktu. Banyak anak di bawah umur juga ikutan jadi polpek, bukankah itu aksi pungli. Divisi marketing, divisi purchasing, divisi HRD, semua ikut rame-rame cari suapan, cari untung sendiri-sendiri dengan berbagai cara. Penegak hukum, polisi, hakim, jaksa, pengacara, dengan canggihnya bermain-main pasal guna memperebutkan rupiah. Aparat Negara, pejabat Negara, sampai pejabat tinggi juga tak kalah serunya, ikut menjadi pemain, setidak-tidaknya keluarganya, temennya, kroninya, atau siapalah. Itu semua udah jadi rahasia umum. Mau jadi apa ya negara ini. Semua kok pada lapar yang amat sangat, saling berebut.

Hebatnya mereka itu punya solidaritas yang amat tinggi, sesama pemain. Jika ada salah satu yang dicolek, ya mereka ramai-ramai membalas. Jika ada salah satu yang ketangkep, ya mereka rame-rame cari aman sendiri-sendiri. Jadi berprasangka buruk nih, jangan-jangan jika ada yang terlanjur ketahuan dan ketangkep justru dideketin, dan terjadi kesepakatan adanya perlindungan atau dukungan dan keluarga dijamin, asal tidak nyanyi. Andai benar … busyet deh, canggih amat.

Gimana dong membasminya? Jadi ingat pada tayangan film tv berjudul “mission imposible” di tahun 1980-an, sebuah aksi dari dinas rahasia atau agen pemerintah, dalam misi rahasia membongkar mafia atau jaringan atau sindikat yang aktifitasnya melawan hukum negara. Ya memang seperti itulah harusnya cara kerja intelejen. Untuk membongkar mafia perampok, ya harus masuk ke sistem, mau tak mau harus ikut jadi perampok juga. Mau bongkar mafia narkoba, ya harus masuk sistem, mau tak mau ya harus jadi pengedar bahkan sampai jadi pengguna segala. Itu sudah menjadi konsekuensi logis berada di dalam sistem. Bahkan dinas rahasia selalu menempatkan agennya untuk berada di institusi baik swasta maupun pemerintahan. Untuk apa? ya untuk bisa melihat dari dekat sistem itu berjalan, demi mengamati dan mengumpulkan sebuah data dan informasi.

Kalo cara seperti itu diterapkan di sini, setidaknya ada kemauan dari penguasa untuk melawan para pelanggar hukum Negara, pastilah Negara ini akan aman tenteram tata raharja gemah ripah low jinawi, …amiiiin. Negara ini akan menjadi negara yang besar, bangsa yang besar. Akan tetapi, sepertinya hal itu masih jauh dari harapan, bagaikan panggang yang jauh dari api. Harapan sih masih ada. Artinya masih ada harapan suatu saat nanti, tapi entah kapan akan adanya perubahan kondisi.

Hal inilah yang menggugah anak-anak bangsa baik secara individu maupun lembaga untuk ikut serta terjun memberantas ketidakberesan. Akan tetapi sanggupkah mereka beraksi seperti yang dilakukan Ibu Nurhayati tadi? Wallahu alam.
Pada dasarnya semua orang tahu adanya ketidakberesan pada suatu, tetapi tidak semua orang tahu celah bermainnya dan bagaimana caranya mereka mengkorup. Mau melapor juga tidak punya bukti, karena tidak punya akses, lalu bagaimana mau ikut memberantas. Hanya berdasar kasat mata, jelas banget kelihatan adanya ketidakberesan. Kalo sudah begitu, paling ketemunya cuma jalan buntu. Orang jawa bilang “mung biso ngelus dodo tok” (cuma bisa mengelus dada saja).

Pernah pada suatu forum, ada seseorang yang menyarankan bahwa untuk bisa memperbaiki sistem ya harus bisa masuk ke sistem itu, dan kita perbaiki dari dalam. Bisakah? Bisa sih, tapi masih jauh. Untuk bisa berhasil, ya itu tadi, berlaku lagi prinsip tadi, masuklah ke sistem yang lebih dalam agar bisa tahu lebih detil. Artinya begitu berada di dalam, untuk bisa tahu praktik suap menyuap ya harus bergabung dengan mereka, dan itu secara otomatis akan ikut terciprat, ya kan. Menolak kerjasama, itu sama dengan harus keluar dari sistem. Jika sampai keluar, maka sia-sialah misi membersihkan sistem itu. Jika tetap berada di dalam, memang bisa tahu persis adanya ketidakberesan, tetapi  muncullah masalah baru, ikut terciprat.

Berat memang memberantas ketidakberesan dalam suatu sistem, apalagi sistem tersebut sudah terorganisir dan dengan tingkat solidaritas yang tinggi antarmereka. Maksud hati ingin jadi pahlawan, apadaya tidak punya kekuatan, ya justru diserang balik, diobok-obok. Ya itulah fakta di negeri ini, peniup peluit harus siap dengan segala konsekuensinya. Namanya manusia, kalo mau dicari salah ya pasti ada salahnya, apalagi pernah berada di dalam sistem tersebut, kelemahan-kelemahan sudah dikenali pihak lain. Yang pangkatnya tinggi saja diobok-obok balik, apalagi orang kecil, mau melapor ketidakberesan harus mikir seribu kali.

Melihat kondisi Negara yang carut-marut, harus bersikap bagaimana kita ini? Dan bagaimana jalan keluarnya? Harus dimulai dari mana penyelesaiannya? Siapa yang bertanggung jawab? Sebuah lingkaran setan atau bahkan jaring-jaring setan. Sepertinya harus dimulai dari RI 1 ni.

Jakarta, 19 Juli 2012
Ompram