Menyimak berita-berita seputar permasalahan Ibu Wa Ode Nurhayati, membuatku
jadi melamun, merenung, berkhayal-khayal, tentang suatu sistem di negeri ini.
Memang sih, melihat kondisi negara kita sekarang-sekarang ini menjadikan bulu
kuduk jadi berdiri. Merinding. Gemes. Kesal. Marah. Semua-semua dikorup.
Semua-semua disunat. Semua-semua disuap. Semua-semua di pungli. Saling tipu.
Saling sikut. Saling bunuh. Saling ancam. Entah itu di lingkungan pemerintah
maupun swasta, entah itu kelas atas maupun kelas rakyat jelata. Hampir melanda di
semua lini.
Tukang sampah aja ikutan korupsi, minimal korupsi waktu. Banyak anak
di bawah umur juga ikutan jadi polpek, bukankah itu aksi pungli. Divisi
marketing, divisi purchasing, divisi HRD, semua ikut rame-rame cari suapan,
cari untung sendiri-sendiri dengan berbagai cara. Penegak hukum, polisi, hakim,
jaksa, pengacara, dengan canggihnya bermain-main pasal guna memperebutkan
rupiah. Aparat Negara, pejabat Negara, sampai pejabat tinggi juga tak kalah
serunya, ikut menjadi pemain, setidak-tidaknya keluarganya, temennya, kroninya,
atau siapalah. Itu semua udah jadi rahasia umum. Mau jadi apa ya negara ini. Semua
kok pada lapar yang amat sangat, saling berebut.
Hebatnya mereka itu punya solidaritas yang amat tinggi, sesama pemain.
Jika ada salah satu yang dicolek, ya mereka ramai-ramai membalas. Jika ada
salah satu yang ketangkep, ya mereka rame-rame cari aman sendiri-sendiri. Jadi
berprasangka buruk nih, jangan-jangan jika ada yang terlanjur ketahuan dan ketangkep
justru dideketin, dan terjadi kesepakatan adanya perlindungan atau dukungan dan
keluarga dijamin, asal tidak nyanyi. Andai benar … busyet deh, canggih amat.
Gimana dong membasminya? Jadi ingat pada tayangan film tv berjudul “mission
imposible” di tahun 1980-an, sebuah aksi dari dinas rahasia atau agen
pemerintah, dalam misi rahasia membongkar mafia atau jaringan atau sindikat
yang aktifitasnya melawan hukum negara. Ya memang seperti itulah harusnya cara
kerja intelejen. Untuk membongkar mafia perampok, ya harus masuk ke sistem, mau
tak mau harus ikut jadi perampok juga. Mau bongkar mafia narkoba, ya harus
masuk sistem, mau tak mau ya harus jadi pengedar bahkan sampai jadi pengguna
segala. Itu sudah menjadi konsekuensi logis berada di dalam sistem. Bahkan
dinas rahasia selalu menempatkan agennya untuk berada di institusi baik swasta
maupun pemerintahan. Untuk apa? ya untuk bisa melihat dari dekat sistem itu
berjalan, demi mengamati dan mengumpulkan sebuah data dan informasi.
Kalo cara seperti itu diterapkan di sini, setidaknya ada kemauan dari
penguasa untuk melawan para pelanggar hukum Negara, pastilah Negara ini akan
aman tenteram tata raharja gemah ripah low jinawi, …amiiiin. Negara ini akan
menjadi negara yang besar, bangsa yang besar. Akan tetapi, sepertinya hal itu
masih jauh dari harapan, bagaikan panggang yang jauh dari api. Harapan sih
masih ada. Artinya masih ada harapan suatu saat nanti, tapi entah kapan akan adanya
perubahan kondisi.
Hal inilah yang menggugah anak-anak bangsa baik secara individu maupun
lembaga untuk ikut serta terjun memberantas ketidakberesan. Akan tetapi
sanggupkah mereka beraksi seperti yang dilakukan Ibu Nurhayati tadi? Wallahu alam.
Pada dasarnya semua orang tahu adanya ketidakberesan pada suatu,
tetapi tidak semua orang tahu celah bermainnya dan bagaimana caranya mereka
mengkorup. Mau melapor juga tidak punya bukti, karena tidak punya akses, lalu bagaimana
mau ikut memberantas. Hanya berdasar kasat mata, jelas banget kelihatan adanya
ketidakberesan. Kalo sudah begitu, paling ketemunya cuma jalan buntu. Orang
jawa bilang “mung biso ngelus dodo tok” (cuma bisa mengelus dada saja).
Pernah pada suatu forum, ada seseorang yang menyarankan bahwa untuk bisa
memperbaiki sistem ya harus bisa masuk ke sistem itu, dan kita perbaiki dari
dalam. Bisakah? Bisa sih, tapi masih jauh. Untuk bisa berhasil, ya itu tadi, berlaku
lagi prinsip tadi, masuklah ke sistem yang lebih dalam agar bisa tahu lebih
detil. Artinya begitu berada di dalam, untuk bisa tahu praktik suap menyuap ya
harus bergabung dengan mereka, dan itu secara otomatis akan ikut terciprat, ya
kan. Menolak kerjasama, itu sama dengan harus keluar dari sistem. Jika sampai
keluar, maka sia-sialah misi membersihkan sistem itu. Jika tetap berada di
dalam, memang bisa tahu persis adanya ketidakberesan, tetapi muncullah masalah baru, ikut terciprat.
Berat memang memberantas ketidakberesan dalam suatu sistem, apalagi
sistem tersebut sudah terorganisir dan dengan tingkat solidaritas yang tinggi
antarmereka. Maksud hati ingin jadi pahlawan, apadaya tidak punya kekuatan, ya
justru diserang balik, diobok-obok. Ya itulah fakta di negeri ini, peniup peluit
harus siap dengan segala konsekuensinya. Namanya manusia, kalo mau dicari salah
ya pasti ada salahnya, apalagi pernah berada di dalam sistem tersebut,
kelemahan-kelemahan sudah dikenali pihak lain. Yang pangkatnya tinggi saja
diobok-obok balik, apalagi orang kecil, mau melapor ketidakberesan harus mikir
seribu kali.
Melihat kondisi Negara yang carut-marut, harus bersikap bagaimana kita
ini? Dan bagaimana jalan keluarnya? Harus dimulai dari mana penyelesaiannya? Siapa
yang bertanggung jawab? Sebuah lingkaran setan atau bahkan jaring-jaring setan.
Sepertinya harus dimulai dari RI 1 ni.
Jakarta, 19 Juli 2012
Ompram